Wajib Tahu, Pameran The Sacred Horse of Sumba Angkat Filosofi Tenun


Ringkasan: The Sacred Horse of Sumba adalah instalasi puncak dari kampanye “I Love Indonesia 2026” di Plaza Indonesia, berlangsung 5–31 Agustus 2026. Pameran ini mengangkat motif kuda pada tenun ikat Sumba, satu simbol yang di kampung asalnya dikerjakan lewat proses pewarnaan alami dan pengikatan benang yang bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Apa itu Pameran The Sacred Horse of Sumba?

Wajib Tahu, Pameran The Sacred Horse of Sumba Angkat Filosofi Tenun

The Sacred Horse of Sumba adalah instalasi wastra yang mengangkat filosofi motif kuda pada tenun Sumba sebagai simbol kehormatan, kemakmuran, dan hubungan masyarakat Sumba dengan tradisi yang diwariskan selama ratusan tahun. Pameran ini digelar di Fashion Corridor Level 1, Plaza Indonesia, pada 5 hingga 31 Agustus 2026, sebagai bagian dari rangkaian bertajuk Loom & Legend: Beyond Luxury Amidst the Mundane.

Bagian dari Kampanye “I Love Indonesia 2026”

Wajib Tahu, Pameran The Sacred Horse of Sumba Angkat Filosofi Tenun

Plaza Indonesia kembali menggelar kampanye tahunan “I Love Indonesia” untuk menyambut HUT ke-81 RI, dengan tema membawa budaya lokal ke dalam pengalaman lifestyle modern. Chief Marketing Officer Plaza Indonesia Zamri Mamat menyampaikan hal ini saat jumpa pers di Jakarta pada 5 Agustus 2026, menyebut kampanye ini sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan budaya, kreativitas, dan inovasi agar warisan budaya Indonesia terus hidup dan diapresiasi lintas generasi.

Selain The Sacred Horse of Sumba, kampanye ini menghadirkan tiga program lain:

  1. PI Neighborhood Icons Market (10–23 Agustus 2026) — pasar kreatif yang menampilkan brand lokal dan UMKM seperti Carpenter’s Bakehouse, Esteboo, Marc & Mich Bakery, dan Roti Macan.
  2. Reinventing Tenun: Journey to Algorithm — dokumenter yang mengikuti desainer Wilsen Willim mengeksplorasi tenun Nusantara dari Halaban, Jembrana, Bandung, hingga Putussibau, termasuk pengembangan koleksi couture berbahan benang denim hasil upcycle yang dipadukan teknik tenun tradisional.
  3. Senada Indonesia 2026 — kolaborasi dengan Oppal menghadirkan pertunjukan musik lintas generasi bersama Rumah Orkestra Jogja.

Wilsen Willim menegaskan bahwa warisan budaya tidak cukup hanya dijaga, tetapi juga perlu memiliki permintaan pasar agar terus berkembang — sebuah pendekatan yang lewat cara kreatif memberi tenun relevansi baru menuju pasar yang lebih luas. Semangat menghidupkan wastra lewat pendekatan baru ini sejalan dengan apa yang terjadi di tenun tradisional Maluku, yang juga terus mencari cara agar tetap relevan bagi generasi urban.

Siapa yang Terlibat dalam Pameran Ini?

Wajib Tahu, Pameran The Sacred Horse of Sumba Angkat Filosofi Tenun

Instalasi The Sacred Horse of Sumba merupakan kolaborasi antara Luxina, Cita Tenun Indonesia, NUSAE, The Riserva, serta berbagai jenama lokal lain. Kolaborasi ini menghadirkan pendekatan baru terhadap wastra Nusantara, menampilkan bagaimana budaya tradisional dapat diterjemahkan melalui perspektif desain kontemporer tanpa kehilangan nilai filosofisnya.

Editorial Director Luxina, Syahmedi Dean, menyebut pameran ini sebagai kesempatan melihat budaya Indonesia dari sudut pandang yang lebih luas: mengangkat budaya Indonesia ke level luxury, karena menurutnya banyak sisi budaya Indonesia bernilai tinggi dan layak dikembangkan ke panggung global.

Mengapa Motif Kuda Begitu Sentral dalam Tenun Sumba?

Wajib Tahu, Pameran The Sacred Horse of Sumba Angkat Filosofi Tenun

Kuda bukan sekadar hewan tunggangan bagi masyarakat Sumba — ia adalah simbol harga diri. Motif kuda pada tenun ikat Sumba menggambarkan kepahlawanan, keagungan, kebangsawanan, ketangkasan, dan status sosial pemakainya. Posisi kuda yang begitu terhormat ini juga tampak di luar dunia tenun: garis keturunan kuda Sandalwood Sumba (Sandalwood Pony) diperkirakan berasal dari abad ke-8 dan tetap menjadi bagian sentral dari budaya, ekonomi, bahkan ritual keagamaan di pulau tersebut — termasuk dalam Pasola, festival tahunan awal musim tanam padi di mana penunggang kuda saling melempar tombak sebagai bagian dari ritual kesuburan tanah.

Motif kuda hanyalah satu dari sekian simbol dalam kosmologi tenun Sumba. Motif lain yang umum ditemukan antara lain:

  • Motif ayam (jantan) — melambangkan kesadaran, kehidupan, dan sosok pemimpin yang melindungi, karena ayam berkokok setiap pagi membangunkan manusia.
  • Motif burung, biasanya kakatua — melambangkan persatuan dan musyawarah.
  • Motif buaya, ular, dan udang — masing-masing punya makna tersendiri, termasuk simbol reinkarnasi.
  • Figur manusia (mamuli) — bukan sekadar hiasan, melainkan simbol sakral yang dipercaya menyimpan kekuatan spiritual dan menceritakan kisah epik masa lalu, bahkan menunjukkan kasta pemakainya.

Pola membaca simbol lewat motif seperti ini bukan hal asing dalam wastra Nusantara. Pembaca yang familier dengan filosofi motif batik dan makna tradisionalnya akan mengenali logika serupa: setiap goresan atau ikatan benang menyimpan pesan yang diwariskan, bukan sekadar dekorasi.

Bagaimana Tenun Ikat Sumba Dibuat?

Sehelai tenun ikat Sumba dengan pewarna alami tidak dibuat dalam hitungan hari. Prosesnya dikerjakan secara manual dan detail, mayoritas oleh penenun perempuan, dan bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk motif yang sangat kompleks. Menurut liputan Mongabay yang dikutip Liputan6, satu helai kain tenun ikat Sumba melalui hingga 42 tahap pengerjaan, dimulai dari meramu tumbuhan dan hewan sebagai bahan pewarna, dilanjutkan proses pengikatan benang menggunakan daun gewang, hingga penjemuran.

Tiga teknik utama dikenal dalam pembuatan motif dan pewarnaan tenun Sumba, masing-masing berkembang di wilayah yang berbeda:

  1. Pahikung — teknik ikat yang banyak digunakan di Wanokaka dan Lamboya.
  2. Pawora — kain dianyam lebih dulu, baru kemudian diberi pewarna alami; umum digunakan di Tana Righu.
  3. Lambaleko — bilah bambu atau lidi disisipkan di antara benang, lalu diungkit dan ditekan mengikuti pola tertentu; teknik ini umum di wilayah Loli.

Pewarnaan benang dilakukan berulang kali — rata-rata 3–4 kali dan maksimal 6 kali — menggunakan bahan-bahan yang tumbuh di alam sekitar penenun:

WarnaSumber AlamiNama Lokal
Merah / cokelatAkar mengkudu (Morinda citrifolia)Kombu
Biru / biru kehitamanDaun nila / tarum (Indigofera tinctoria)Wuira / Kawaru
Hitam / cokelat tuaLumpur
KuningKayu tertentu

Setiap penenun memiliki resep pewarnaan yang dirahasiakan turun-temurun, karena dianggap sebagai ciri khas dan keunikan dari kain yang dihasilkannya. Ketergantungan pada bahan alami ini juga terlihat pada wastra lain di Nusantara — pola serupa dibahas lebih detail dalam pewarna alami batik dan warna tradisional, yang menunjukkan bagaimana teknik pewarnaan nabati jadi identitas daerah masing-masing.

Berapa Harga Tenun Ikat Sumba?

Harga kain tenun Sumba sangat bergantung pada jenis pewarna, tingkat kesulitan motif, dan lama pengerjaan.

Jenis KainLama PengerjaanKisaran Harga
Pewarna sintetis5–6 bulanRp500.000 – Rp1 juta
Pewarna alami8 bulan – 2 tahunRp4 juta – Rp25 juta
Motif ayam (Sumba Timur)BervariasiSekitar Rp1,6 juta

Kain dengan pewarna alami dan motif kompleks — termasuk yang menyerupai motif patola dari India — berada di ujung tertinggi kisaran harga karena tingkat kesulitan dan waktu pengerjaannya. Selain untuk dikenakan sehari-hari, tenun ikat Sumba juga punya fungsi ritual: dalam upacara kematian adat Marapu, jenazah bangsawan dapat dibungkus hingga sekitar 100 lembar kain, sementara warga biasa membutuhkan 10–15 lembar.

Cara Melihat Pameran The Sacred Horse of Sumba

  1. Datang ke Plaza Indonesia — kunjungi Fashion Corridor Level 1 antara 5–31 Agustus 2026.
  2. Ikuti rangkaian Loom & Legend — instalasi ini merupakan puncak dari tema Beyond Luxury Amidst the Mundane, jadi perhatikan juga elemen pendukung di area yang sama.
  3. Kombinasikan dengan program lain — jika berkunjung antara 10–23 Agustus, sempatkan mampir ke PI Neighborhood Icons Market yang berlangsung bersamaan.
  4. Tonton dokumenternya — untuk konteks yang lebih dalam soal proses kreatif di balik tenun kontemporer, ikuti serial dokumenter Reinventing Tenun: Journey to Algorithm.

Tren mengangkat wastra tradisional ke panggung yang lebih modern bukan cuma terjadi di dunia tenun. Arah serupa juga tampak dalam tren batik modern dengan sentuhan kontemporer maupun gerakan fesyen berkelanjutan lewat batik ramah lingkungan — dua contoh bahwa wastra Nusantara semakin diposisikan sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar warisan yang disimpan.

FAQ — Pameran The Sacred Horse of Sumba

Apa itu pameran The Sacred Horse of Sumba?

Instalasi wastra yang mengangkat filosofi motif kuda pada tenun ikat Sumba, digelar 5–31 Agustus 2026 di Fashion Corridor Level 1 Plaza Indonesia, sebagai puncak kampanye “I Love Indonesia 2026”.

Siapa saja yang berkolaborasi dalam pameran ini?

Luxina, Cita Tenun Indonesia, NUSAE, The Riserva, dan sejumlah jenama lokal lain berkolaborasi menghadirkan wastra Nusantara dengan pendekatan desain kontemporer.

Mengapa motif kuda dianggap penting dalam tenun Sumba?

Karena kuda adalah simbol harga diri masyarakat Sumba — motifnya menggambarkan kepahlawanan, keagungan, kebangsawanan, dan status sosial, sejalan dengan peran kuda Sandalwood dalam kehidupan dan ritual masyarakat Sumba sejak berabad-abad lalu.